Ngabuburit Pengawasan di Pesantren Diponegoro, Bawaslu Klungkung Hadirkan Pendidikan Demokrasi dan Tausiyah Kebangsaan
|
Semarapura, Bawaslu Klungkung – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Klungkung melaksanakan kegiatan Ngabuburit Pengawasan dengan tema Pendidikan Demokrasi dan Tausiyah Kebangsaan di Pondok Pesantren Diponegoro Klungkung, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Klungkung I Komang Supardika, bersama Anggota Bawaslu Kabupaten Klungkung Sang Ayu Mudiasih dan Ida Ayu Ari Widhiyanthy. Turut hadir Perwakilan Bawaslu Provinsi Bali Ni Luh Supri Cahayani, selaku Kabag Pengawasan dan Humas, Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Klungkung Dewa Ngakan Putu Bagus Yudha Pratama, Pimpinan Pondok Pesantren Diponegoro Klungkung Edi Rusdiyanto, serta Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Klungkung Muchamad Muchtar yang memberikan tausiyah kebangsaan.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Bawaslu Kabupaten Klungkung I Komang Supardika yang menekankan pentingnya pendidikan demokrasi bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. “Pendidikan demokrasi penting dikenalkan sejak dini kepada generasi muda. Santri dan santriwati adalah calon pemimpin masa depan yang harus memahami nilai demokrasi, partisipasi, dan tanggung jawab sebagai warga negara,” ujar Supardika.
Sambutan juga disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Diponegoro Klungkung, Edi Rusdiyanto, yang mengapresiasi inisiatif Bawaslu dan Kementerian Agama dalam menghadirkan program edukasi demokrasi bagi para santri. “Kami mengapresiasi program Ngabuburit Pengawasan dari Bawaslu dan Kementerian Agama. Mengisi waktu menjelang berbuka dengan wawasan demokrasi dan nilai spiritual menjadi bekal penting bagi santri dan santriwati,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, Edi Rusdiyanto juga menyampaikan sekilas sejarah berdirinya Pondok Pesantren Diponegoro yang telah berdiri sejak tahun 1995.
Materi sosialisasi demokrasi disampaikan oleh Kabag Pengawasan dan Humas Bawaslu Provinsi Bali, Ni Luh Supri Cahayani, yang mengajak generasi muda untuk turut serta mengawal demokrasi melalui pengawasan partisipatif. “Pengawasan pemilu tidak hanya menjadi tugas penyelenggara, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat. Kami mengajak santri dan santriwati untuk berani menjadi pengawas partisipatif demi menjaga demokrasi yang jujur dan adil,” jelasnya.
Selanjutnya, Anggota Bawaslu Kabupaten Klungkung Ida Ayu Ari Widhiyanthy memberikan pemahaman tentang penyelenggara pemilu, termasuk perbedaan antara Pemilu dan Pemilihan, serta pentingnya menolak praktik politik uang. "Memahami perbedaan antara Pemilu dan Pemilihan adalah bagian dari literasi demokrasi. Yang tidak kalah penting, generasi muda harus berani menolak politik uang karena praktik tersebut merusak nilai demokrasi,” ujarnya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Anggota Bawaslu Kabupaten Klungkung Sang Ayu Mudiasih, yang mengajak para santri dan santriwati untuk mengenal hak pilih sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara. "Hak pilih adalah hak konstitusional setiap warga negara. Kami mengajak generasi muda untuk melakukan perekaman KTP-el ketika berusia 17 tahun agar dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilu mendatang,” kata Mudiasih.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif, di mana para santri dan santriwati terlihat antusias mengajukan berbagai pertanyaan seputar kepemiluan serta isu demokrasi yang berkembang di kalangan generasi muda.
Menutup rangkaian kegiatan, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Klungkung Muchamad Muchtar menyampaikan tausiyah kebangsaan yang menekankan pentingnya peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Dalam Islam, memilih pemimpin yang baik adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai warga negara. Santri diharapkan dapat berkontribusi bagi bangsa dengan menggunakan hak pilih secara bijak dan memilih pemimpin yang amanah,” tuturnya.
Melalui kegiatan Ngabuburit Pengawasan, Bawaslu Kabupaten Klungkung berharap dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk berperan aktif dalam menjaga demokrasi serta memperkuat nilai kebangsaan yang selaras dengan ajaran agama. Pendidikan demokrasi yang dikemas melalui pendekatan dialog, diskusi, dan penguatan nilai spiritual diharapkan mampu membentuk pemahaman yang utuh bagi generasi muda mengenai pentingnya partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Upaya ini juga menjadi bagian dari penguatan ruang edukasi demokrasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk lembaga pendidikan, tokoh agama, dan komunitas pemuda. Melalui kolaborasi tersebut, partisipasi masyarakat dalam pengawasan demokrasi diharapkan semakin tumbuh, sehingga nilai kejujuran, keadilan, dan integritas dalam proses demokrasi dapat terus terjaga.
Humas Bawaslu Klungkung